Dr. Agus Irfan, SHI. MPI.
Humaisarah, 7 Desember 2019

 

Sebagai santri, rasanya tidak afdhal kalau belum ziarah ke tempat Sultan al-auliya ini, Syeh Sayid Abu al-Hasan Ali as-Syadzili. Tokoh pendiri tarekat (Thariqah) Syadziliyah kelahiran Maroko pada 593 H/1197 M dari keluarga Alawi yang nasab dari ayah dan ibunya sampai pada Sayidina Hasan dan Husein bin Ali bin Abi Thalib.

Untuk menuju makamnya yang terletak di daerah Humaisara dibutuhkan setidaknya 12-15 jam (via transportasi darat dari kota Cairo) baik lewat jalur Luxor, Aswan maupun Marsa Alam. Lazimnya pelajar dan sarkuber Indonesia lebih memilih jalur pertama Cairo – Luxor – Aswan (875 km belum ke lokasi) ketimbang Cairo – Marsa Alam (741). Sementara dari Marsa Alam ke lokasi (150 km) dan bukan 3 atau 5 km sebagaimana yang didakwahkan simbah google. Sungguh fatwa Google paling sesat menyesatkan dan cukup kami korbannya.

Salah satu kelebihan tarekat ini adalah kemampuannya menserasikan antara aspek syariat (eksoterik) dengan aspek spiritual (esoterik) sebagaimana ungkapan as Syadzili:

إذا لم يواظب الفقير على حضور الصلوات الخمس فى الجماعة فلا تعبأ به

“Jika ada seorang salik tidak rajin atau masih bermalas-malasan berjamaah maka abaikan saja”

Ungkapan lain as Syadzili adalah :

إذا عارض كشفك الكتاب والسنة فتمسك بالكتاب والسنة ودع الكشف، وقل لنفسك إن اللّٰه قد ضمن العصمة فى الكتاب و السنة.

“Jika saja ada pertentangan antara proses mukasyafah dengan yang diajarkan Quran dan Sunah maka ikutilah dua sumber dan abaikan proses itu. Karena di dalam dua sumber teesebut, Allah telah menjamin keselamatan”.

Kelebihan lain dari tarekat ini juga karena karakternya yang aktif (Tasawuf Ijabi) dalam bermuamalah atau “mungkin” mengambil istilah Fazlur Rahman sebagai “Neo Sufism” sebagai anti tesis dari pemaknaan tasawuf salbi yang pasif sebagaimana halnya uzlah.

Karenanya, Tarekat Syadziliyah dapat dikategorikan sebagai tasawuf akhlaqi atau bahkan Mustafa Hilmy menyebut tarekat ini sebagai role model sufistiknya Abu Hamid al Ghazali dan Abu al Qasim al Junaid. Jenis tarekat ini berbeda dengan tasawuf falsafiyang tidak jarang menuai perdebatan dalam pemikiran Islam sebagaimana filsafat isyraqiyah (illuminasi) yang dikenalkan Syihabuddin al Suhrawardi, aliran wihdatul wujud (termimologi paling kontroversial yang terkadang dimaknai sebagai Pantheisme dan manunggaling kawula gusti) yang sering dinisbatkan pada Muhyiddin Ibnu ‘Arabi atau bahkan konsep wihdatus syuhudnya Syarafuddin Umar ibn al Faridh sebagai sanggahan terhadap konsep wihdatul wujud yang hanya dapat dirasakan tanpa dipahami akal (post rational experience).

Perkembangan tarekat Syadziliyah sebagaimana di Indonesia yang dikembangkan Maulana Habib Lutfi bin Ali bin Yahya, juga mengakar di masyarakat Mesir dengan berbagai alirannya. Ada Tarekat Muhammadiyah Syadziliyah di Mukhatam yang dinisbatkan pada Syeh Muhammad Zaki Ibrahim, Guru dan ayahanda Syeh Muhanna (Mursyid sekarang) maupun Tarekat Yusriyah Syadziliyah (asuhan Syeh Yusri Rusydi) masih di wilayah Cairo.

Ala kulli hal, kami merasakan kepuasan dapat berziarah di Quthbul auliya Syed Abu al Hasan ini, guru dari Abu Abbas al Mursi, guru dari penulis al-Burdah Imam al-Bushiri dan penulis kitab al-Hikam, Ibn Athaillah al-Sakandari. Dengan wasilah ini, kami berdoa kepada Allah Swt. untuk kebaikan kita semua, keberkahan bangsa Indonesia. Kepadanya juga kami sampaikan salam dari keluarga besar Nahdlatul Ulama, FAI UNISSULA. Sekedar tahadduts bin ni’mah, Lelah kami juga terobati ketika tanpa sengaja bisa sungkem dengan Syeh Muhanna di makam as-Syadzili dan diijazahi Mafatihul Qurb. Alhamdulillah, sekali lagi kepuasan santri yang hanya bisa dirasa tanpa dinalar.

رب فانفعنا ببركتهم    واهدناالحسنى بحرماتهم

وأمتنا فى طريقتهم   ومعافاة من الفتن

Leave a reply