Ahmad Mujib, S.Th.I., M.A.

Professor KH. Mustaqim yang menjadi pembicara menyodorkan logika kenapa kita harus menempuh jalan moderasi dibanding berfikir tektualis maupun liberalis.

Karena, menurut sang Prof  risalah ingkang dibeto kanjeng Nabi memang memiliki karakter gaya jalan tengah  diantara dua hal yg ekstrim.

Siji. Terkait konsep ketuhanan. Ajaran Islam yang mentauhidkan Allah adalah jalan tengah diantara pandangan yang meyakini banyak dewa atau meniadakan Tuhan sama sekali.

Loro. Terkait dalam pelaksanaan syariah, Islam berada di tengah dari pelaksanaan model yahudi maupun kristen. Misal soal bagaimana memperlakukan perempuan yang haid. Ajaran yahudi berlaku ekstrim dengan menjauhi sejauh jauhnya  perempuan haid. Mereka, perempuan haid disuruh tidur luar rumah. Tidak boleh makan bareng atau tidur satu rumah. Sedang dalam kristen, perempuan haid tetep boleh dijima’. Adapun Islam ambil jalan tengah, diperkenankan perempuan haid tetap tidur bersama suaminya, cuma gak boleh jima’.

Telu. Berkenaan degan budaya, Islam bukan sesuatu yang dipertentangkan dengan budaya,  Islam tidak tunduk pada budaya, tapi juga tidak anti budaya. Bila budaya secara substansial bertentangan dengan ajaran Islam maka berlaku pengharaman. Contone tradisi mabuk mabukan, meramal nasib orang yang bepergian berdasarkan burung yg dilepas.

Namun, bila budaya secara substansial tidak bertentangan dengan ajaran agama, justru diakomodir. Seperti pernak pernik perkawinan yang menjadi adat orang arab, seperti adanya,  lamaran,  mahar, juga akad tetap dipakai.

Papat. Berkenaan dengan din dan daulah. Pilihan moderasi tidak menformalkan dalam nyetak nyetake negara Islam, tapi memungkinkan pelaksanaan agama difasilitasi negoro.

Di indonesia itu yg dipilih oleh para ulama yg bijak. Ora dicetak cetakke disebut negara Islam tapi secara substansi wis negara Islam. Pelaksanaan syariah dikawal oleh negara. Dasarnya aja ketuhananan. Pemerintah cawe cawe ngurus lebaran. Ngatur orang mudik. Menentukan kapan lebaran. Nggawe aturan pas bodho wong kudu entuk THR, mendirikan banyak sekali masjid. Ngatur orang kawin. Ngatur kelancaran pelaksanaan haji dst.

Dalam Piagam Madinah, Nabi menganganggap orang yahudi satu umat dgn komunitas muslim. Yang sama sama berkewajiban membela kota Madinah dari serangan musuh.

Leave a reply