Agus Irfan, S.H.I., M.P.I.
Madinatul Bu’ust, 22 Desember 2019

 

Dua istilah serupa ini, kerap dipahami sebagian kecil kalangan sebagai kelompok yang sama sebagai gerakan pemurnian syariat tanpa pengurangan dan penambahan sebagaimana pengertian dalam Wikipedia. Sekilas dapat dipahami jika mengacu pada semangat keberagamaan kelompok Salafiyah yang diyakininya sebagai duplikasi keberislaman generasi Salaf sebagai generasi terbaik yang mencakup generasi sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in.

Namun jika dilihat dari worldview dan sikap keberagamaan yang dikembangkan, keduanya tampak berbeda khususnya di dalam mengkomunikasikan antara teks (نص) dengan konteks (ما وراء النص) dan melihat realitas kehidupan yang beragam. Salah satu karya yang memotret persoalan tersebut adalah tulisan Muhammad Abdul Fadhil Al Quwaishi (salah satu ulama al Azhar) dalam bukunya berjudul عن السلف و السلفية (On Ancestors and Religious Traditionalist).

Abdul Fadhil mencatat bahwa idealitas generasi salaf tidak semata-mata ditentukan secara periodik, namun karena kualitas akhlak dan akidah mereka termasuk akhlak di dalam mensikapi perbedaan. Pada eranya, perbedaan pendekatan yang berujung pada perbedaan pandangan dan penafsiran menjadi hal lumrah bahkan menjadi dialektika keilmuan yang mapan dan terpola (نسقا معرفيا متكاملا).

Bagaimana dengan Salafisme?

Abdul Fadhil menyebut bahwa setiap kelompok yang menyebut dirinya sebagai salafiyah atau mengklaim sebagai pewaris generasi salaf tanpa disertai sikap elok sebagaimana yang dicontohkan generasi salaf, maka penisbatan tersebut tidak lebih dari pembajakan nama. Masih menurut Abdul Fadhil, setidaknya ada 3 nilai atau varian yang diwariskan generasi salaf  untuk bisa menjadi contoh generasi berikutnya.

  1. Kualitas Akidah

Di samping berhasil membangun tradisi keilmuan yang mapan, generasi Salaf sangat berhati-hati untuk menghakimi kelompok yang berbeda. Terhadap kelompok Khawarij sekalipun yang jelas-jelas gampang mengkafirkan atau bahkan membunuh saudara muslim lainnya, generasi salaf tidak sampai menghukumi kafir. Sebagaimana respon Sayidina Ali ketika ditanya apakah Khawarij sudah layak dianggap kafir? Ali menjawab “Mereka tidak kafir, mereka tetap saudara kita hanya saja mereka membangkang”

(أكفارهم؟ قال “لا، بل من الكفر فروا وإنما هم إخواننا لكنهم بغوا علينا)

  1. Kualitas Akhlak

Jawaban Sayidina Ali di atas menunjukkan kualitas akhlak generasi Salaf yang mendasarkan sikap keberagamaannya pada nilai-nilai kemanusiaan. Sikap yang kaya akan kelembutan ini meniscayakan kerahmatan terhadap siapapun termasuk Khawarij yang secara serampangan menghukumi kafir di luar kelompoknya.

  1. Kualitas Peradaban

Dengan kedalaman dan pemahaman ilmu mereka, generasi Salaf ini sangat dinamis dan fleksibel di dalam melihat realitas keberagaman dan keberagamaan masyarakat. Dinamika yang dibingkai asas keadilan dan kebebasan khususnya bebas dari kejumudan di dalam memahami teks pada satu sisi dan dari subyektifitas penafsiran pada sisi lain dengan selalu mengaji dan mengaji. Dalam hal demikian, cukup relevan ungkapan Umar bin Abdul Aziz:

ما أحب أن أصحاب رسول اللّٰه لم يختلفوا، لأنه لو كان قولا واحدا لكان الناس فى ضيق.

ما رأيت قوما أيسر سيرة، ولا أقلّ تشديدا منهم.

Leave a reply