Agus Irfan
Bu’ust, 24 Desember 2019

 

Talaqqi ataupun Musyafahah merupakan metode belajar al-Qur’an yang mensyaratkan perjumpaan secara langsung antara murid dengan guru. Talaqqi juga mensyaratkan gerak mulut murid harus mengikuti gerak mulut yang dicontohkan guru. Karenanya talaqqi juga disebut dengan talaqqi syafahi atau musyafahah yang secara bahasa dapat diartikan “adu lambe” atau saling mengikuti gerakan bibir.

Salah satu landasan epistemologi talaqqi syafahi atau musyafahah adalah QS. Al-Qiyamah ayat 16:

لا تحرك به لسانك لتعجل به

“(Sekali-kali) jangan kau (Muhammad) gerakkan lidahmu karena hendak cepat-cepat menguasainya”.

Wahbah al Zuhaili dalam Kitabnya “al Wajiz” menjelaskan bahwa ayat ini mengajarkan pada Nabi tentang cara mengikuti wahyu di dalam membaca al-Qur’an atau teguran Allah kepada Nabi untuk tidak membaca al-Qur’an sebelum Jibril selesai membacakannya terlebih dahulu hingga selesai.

Ayat tersebut secara langsung juga turut menegaskan keistimewaan tradisi periwayatan (transmition method) yang hanya dimiliki Islam sebagai salah satu pendekatan memperoleh pengetahuan khususnya di dalam proses mempelajari al-Qur’an. Karenanya cukup beralasan ketika Khalid Abdurrahman al-‘Akk dalam “Ushul al Tafsir wa Qawa’iduhu” mendefinisikan al-Qur’an sebagai wahyu yang diturunkan kepada Rasul SAW dan diriwayatkan secara mutawatir.

(الوحي المنزّل على رسول اللّٰه ونقل عنه منقولا متواترا بلا شبهة)

Narasi نقل عنه منقولا متواترا menunjukkan bahwa SOP pembelajaran al-Qur’an sudah terpola melalui wahyu. Karenanya, apapun dialek atau logat yang berkembang di masyarakat harus mengikuti dialek bacaan al-Qur’an. Femomena dialek sebagian kecil masyarakat misalnya, masyarakat Banyumasan yang sulit melafadzkan huruf ع menjadi ‘nga’, orang semarangan yang terbiasa melafadzkan ز menjadi ‘ya’ (zainuddin menjadi yainuddin) bahkan orang Mesir sendiri membaca huruf ج dengan ‘ga’. So, di Mesir tidak akan ditemukan masjid karena yang ada “masgid” .

Namun ragam dialek ini meski menjadi habit mapan di masyarakat, tidak berarti dimaafkan atau dimaklumi di dalam membaca al-Qur’an. Dalam taraf komunikasi, boleh jadi ragam dialek ini menjadi seni peradaban namun menjadi tidak beradab jika dijadikan alibi untuk tidak belajar membaca al-Qur’an secara maksimal. Fakta membuktikan, seiring usaha seseorang bertalaqqi syafahi di dalam membaca al-Qur’an dengan baik dan benar, Insya Allah pasti berhasil dan ragam dialek di atas tetap lestari pada tempat lain yang elok.

 

Ayo Mondok Ayo Mengaji!

Selamat Bertalaqqi Syafahi

Leave a reply